Saya sering heran sendiri atas apa yang saya lihat, rasakan, dan pikirkan.
Dulu, saya cukup sering main ke Car Free Day yang di Dago, tapi sekarang udah males ke sana. Sekarang, Car Free Day memang benar-benar Hari Bebas Mobil.. Dimana disana dan pada waktu tertentu tidak ada mobil yang lewat sehingga polusi berupa asap pun tidak ada. Kita bebas menghirup oksigen sebebas-bebasnya. Tapi motor boleh lewat, meski mesin tidak dinyalakan, tetep aja mengganggu. Tidak konsisten. Trus sampah juga makin bertambah :p. Sebenarnya gak ada yang salah, tapi dampak yang saya rasakan dan lihat sendiri, itu menghasilkan sampah dan bertebaran di mana-mana. Bungkus makanan, gelas plastik, dan brosur pun bertebaran. Gak peduli lah dengan brosur kampanye GO GREEN, tapi kalau kenyataannya malah bikin GO GLIND area yang sebenarnya udah green. HERAN DEH..
Taun 2006, saya pernah membaca berita di surat kabar bahwa pada taun 2020, jumlah umat Islam di dunia akan semakin banyak. Ketika itu saya langsung menggunting berita itu dan menempelnya untuk dijadikan kliping pribadi. Tapi sekarang, setelah dipikir-pikir, di Indonesia aja umat Islamnya paling banyak dan bahkan semakin banyak, tapi kok tingkat kemaksiatan tak kunjung menurun, malah ikut meningkat dan merajalela dimana-mana. Trus apa yang dibanggakan dari jumlah umat Islam yang banyak itu? HERAN DEH..
Sistem parkir saat ini memang canggih, ya kemasannya aja sih.. Tapi urusan keamanan, itu tanggungjawab pemilik, begitu aturannya. Ah, saya gak peduli dengan aturannya, tapi dengan mekanisme tiket parkir. Setiap kendaraan pasti dan harus menerima karcis berupa kertas dari mesin atau orang. Lalu ketika kendaraan kita akan keluar, karcis itu diberikan dan lalu disobek dan lalu dibuang. Singkat sekali umur kertas itu. Kecil memang ukuran karcis itu, tapi bayangkan, berapa ribu orang yang menerima karcis kertas itu dalam sehari di Kota Bandung? Itu baru Bandung, jumlah totalkan dengan kota lainnya yang ada di Indonesia, berapa banyak kertas yang diterima dan lalu dibuang begitu saja? Dan coba konversikan ke dalam batang kayu, berapa batang kayu yang dibutuhkan dalam sehari untuk membuat karcis? Dan yang bikin saya cukup kesal, kalau karcis ilang, kena denda 10ribu, yaiks! males pisan. Ya kalau ingin terlihat profesional, jangan pake karcis kertas lah.. Gak level.. Pake kartu dong.. kan lebih elegan dan keren. Dan itu tanpa disadari membantu program cinta lingkungan.. Katanya modern, tapi kok masih pake kertas? HERAN DEH..
Banyak orang yang gak suka kantong plastik beterbangan dimana-mana. ‘wuss.. wuss’ tertiup angin, dan nyangkut di motor kita, nyangkut di wiper kaca depan mobil, mendarat di depan halaman rumah.. Dan itu menyebalkan, bukan? Tapi betapa seringnya kita ketika belanja di pasar atau minimarket atau supermarket, kita menerima belanjaan dengan dikantongi kresek (yang di toko atau supermarket pasti bermerk). Yah, itu pelayanan yang baik dari pihak penjual. Tapi apakah kantong plastik yang kita bawa dari toko ke rumah akan dimanfaatkan kembali atau akan mendarat di tempat sampah? Oh, sayang sekali jika harus mendarat di tempat sampah.. Hidupnya memang tidak lama, kasian.. Dan kita pasti tau, berapa ratus taun kita tunggu agar plastik itu bisa terurai? Tapi percuma juga kalau kantong plastik itu cuma dilipat dan disimpan tapi gak dipake.. Ah, sama saja menimbun sampah dengan rapi :p.. Kenapa sih gak coba bawa kantong sendiri (lebih baik kantong kain atau yang water proof) buat bawa belanjaan kita? Itu kan lebih diet plastik. HERAN DEH..
Sering dapet berita tentang banjir kan? Atau pernah mengalaminya? Ya, saya sendiri pernah. Banyak faktor memang ketika bencana banjir itu menyerang kita. Bisa karena sungai meluap, tanggul sawah yang bocor, dan sampah yang mampet. Tapi dari sekian banyaknya faktor, yang paling kuat adalah karena sampah. Orang-orang menyalahkan sampah, padalah salah sampah apa? Bukannya sampah itu produk dari manusia itu sendiri? Lantas siapa yang disalahkan? Jangan salahkan alam, karena alam mengajari kita untuk mencintai diri sendiri dan makhluk-makhlukNya. Jangan salahkan Allah, karena Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Salahkan diri sendiri, karena itu terjadi karena pasti ulah tangan manusia. Ingin tidak banjir atau lingkungan sehat, tapi kok menjaga lingkungan tetap bersih dari sampah gak bisa.. HERAN DEH..
Sering kita tidak sadar berkata,”kalau waktu luang, saya sih suka baca Al-Quran” atau “Kang, Teh, kalau ada waktu luang, ikut kajian tafsir di masjid komplek saya yaa..”.. Terkesan baik, dan memang baik. Tapi saya sendiri tidak suka sebenarnya. Kok Islam seakan-akan jadi agama sisa. Waktu untuk mengenal Allah itu hanya pada waktu luang atau waktu sisa. Gak suka. Justru harus sebaliknya, belajar matematika, fisika, atau baca novel itu ketika waktu luang. Dan pastikan, semuanya diniatkan sebagai ibadah. Bukankah sebaiknya begitu? HERAN DEH..
Berdarah Sunda dan bertanah Priangan. Beberapa bangga menjadi orang asli suku Sunda karena memiliki seni dan budaya yang banyak dan diminati turis domestik dan mancanegara. Berbicara menggunakan bahasa Sunda dengan teman sekampung, itu sudah biasa dan memang seharusnya begitu. Tapi ketika bertemu teman di kota, yang dandanannya serga gahol dan necis, mendadak lupa Sunda (atau mungkin dilupakan?). Ngomongnya sih, “Saya emang orang Bandung, tapi jarang pake bahasa Sunda”, eh di rumahnya fasih tuh Sundanya. Ada apa sih dengan bahasa Sunda? Memalukan kah bahasa Sunda itu? Padahal orang Jawa, senang banget pake bahasa daerahnya dengan sesama sukunya di kota bukan suku Jawa. Sunda, HERAN DEH..
Dan masih banyak heran-heran yang masih saya pikirkan.





