HERAN DEH

Saya sering heran sendiri atas apa yang saya lihat, rasakan, dan pikirkan.

Dulu, saya cukup sering main ke Car Free Day yang di Dago, tapi sekarang udah males ke sana. Sekarang, Car Free Day memang benar-benar Hari Bebas Mobil.. Dimana disana dan pada waktu tertentu tidak ada mobil yang lewat sehingga polusi berupa asap pun tidak ada. Kita bebas menghirup oksigen sebebas-bebasnya. Tapi motor boleh lewat, meski mesin tidak dinyalakan, tetep aja mengganggu. Tidak konsisten. Trus sampah juga makin bertambah :p. Sebenarnya gak ada yang salah, tapi dampak yang saya rasakan dan lihat sendiri, itu menghasilkan sampah dan bertebaran di mana-mana. Bungkus makanan, gelas plastik, dan brosur pun bertebaran. Gak peduli lah dengan brosur kampanye GO GREEN, tapi kalau kenyataannya malah bikin GO GLIND area yang sebenarnya udah green. HERAN DEH..

Taun 2006, saya pernah membaca berita di surat kabar bahwa pada taun 2020, jumlah umat Islam di dunia akan semakin banyak. Ketika itu saya langsung menggunting berita itu dan menempelnya untuk dijadikan kliping pribadi. Tapi sekarang, setelah dipikir-pikir, di Indonesia aja umat Islamnya paling banyak dan bahkan semakin banyak, tapi kok tingkat kemaksiatan tak kunjung menurun, malah ikut meningkat dan merajalela dimana-mana. Trus apa yang dibanggakan dari jumlah umat Islam yang banyak itu? HERAN DEH..

Sistem parkir saat ini memang canggih, ya kemasannya aja sih.. Tapi urusan keamanan, itu tanggungjawab pemilik, begitu aturannya. Ah, saya gak peduli dengan aturannya, tapi dengan mekanisme tiket parkir. Setiap kendaraan pasti dan harus menerima karcis berupa kertas dari mesin atau orang. Lalu ketika kendaraan kita akan keluar, karcis itu diberikan dan lalu disobek dan lalu dibuang. Singkat sekali umur kertas itu. Kecil memang ukuran karcis itu, tapi bayangkan, berapa ribu orang yang menerima karcis kertas itu dalam sehari di Kota Bandung? Itu baru Bandung, jumlah totalkan dengan kota lainnya yang ada di Indonesia, berapa banyak kertas yang diterima dan lalu dibuang begitu saja? Dan coba konversikan ke dalam batang kayu, berapa batang kayu yang dibutuhkan dalam sehari untuk membuat karcis? Dan yang bikin saya cukup kesal, kalau karcis ilang, kena denda 10ribu, yaiks! males pisan. Ya kalau ingin terlihat profesional, jangan pake karcis kertas lah.. Gak level.. Pake kartu dong.. kan lebih elegan dan keren. Dan itu tanpa disadari membantu program cinta lingkungan.. Katanya modern, tapi kok masih pake kertas? HERAN DEH..

Banyak orang yang gak suka kantong plastik beterbangan dimana-mana. ‘wuss.. wuss’ tertiup angin, dan nyangkut di motor kita, nyangkut di wiper kaca depan mobil, mendarat di depan halaman rumah.. Dan itu menyebalkan, bukan? Tapi betapa seringnya kita ketika belanja di pasar atau minimarket atau supermarket, kita menerima belanjaan dengan dikantongi kresek (yang di toko atau supermarket pasti bermerk). Yah, itu pelayanan yang baik dari pihak penjual. Tapi apakah kantong plastik yang kita bawa dari toko ke rumah akan dimanfaatkan kembali atau akan mendarat di tempat sampah? Oh, sayang sekali jika harus mendarat di tempat sampah.. Hidupnya memang tidak lama, kasian.. Dan kita pasti tau, berapa ratus taun kita tunggu agar plastik itu bisa terurai? Tapi percuma juga kalau kantong plastik itu cuma dilipat dan disimpan tapi gak dipake.. Ah, sama saja menimbun sampah dengan rapi :p.. Kenapa sih gak coba bawa kantong sendiri (lebih baik kantong kain atau yang water proof) buat bawa belanjaan kita? Itu kan lebih diet plastik. HERAN DEH..

Sering dapet berita tentang banjir kan? Atau pernah mengalaminya? Ya, saya sendiri pernah. Banyak faktor memang ketika bencana banjir itu menyerang kita. Bisa karena sungai meluap, tanggul sawah yang bocor, dan sampah yang mampet. Tapi dari sekian banyaknya faktor, yang paling kuat adalah karena sampah. Orang-orang menyalahkan sampah, padalah salah sampah apa? Bukannya sampah itu produk dari manusia itu sendiri? Lantas siapa yang disalahkan? Jangan salahkan alam, karena alam mengajari kita untuk mencintai diri sendiri dan makhluk-makhlukNya. Jangan salahkan Allah, karena Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Salahkan diri sendiri, karena itu terjadi karena pasti ulah tangan manusia. Ingin tidak banjir atau lingkungan sehat, tapi kok menjaga lingkungan tetap bersih dari sampah gak bisa.. HERAN DEH..

Sering kita tidak sadar berkata,”kalau waktu luang, saya sih suka baca Al-Quran” atau “Kang, Teh, kalau ada waktu luang, ikut kajian tafsir di masjid komplek saya yaa..”.. Terkesan baik, dan memang baik. Tapi saya sendiri tidak suka sebenarnya. Kok Islam seakan-akan jadi agama sisa. Waktu untuk mengenal Allah itu hanya pada waktu luang atau waktu sisa. Gak suka. Justru harus sebaliknya, belajar matematika, fisika, atau baca novel itu ketika waktu luang. Dan pastikan, semuanya diniatkan sebagai ibadah. Bukankah sebaiknya begitu? HERAN DEH..

Berdarah Sunda dan bertanah Priangan. Beberapa bangga menjadi orang asli suku Sunda karena memiliki seni dan budaya yang banyak dan diminati turis domestik dan mancanegara. Berbicara menggunakan bahasa Sunda dengan teman sekampung, itu sudah biasa dan memang seharusnya begitu. Tapi ketika bertemu teman di kota, yang dandanannya serga gahol dan necis, mendadak lupa Sunda (atau mungkin dilupakan?). Ngomongnya sih, “Saya emang orang Bandung, tapi jarang pake bahasa Sunda”, eh di rumahnya fasih tuh Sundanya. Ada apa sih dengan bahasa Sunda? Memalukan kah bahasa Sunda itu? Padahal orang Jawa, senang banget pake bahasa daerahnya dengan sesama sukunya di kota bukan suku Jawa. Sunda, HERAN DEH..

Dan masih banyak heran-heran yang masih saya pikirkan.

1 Comment

Filed under Curhat

Bapak, Pendiam yang Suka Diam-diam

Kaget ketika mendapati kabar bahwa bapak masuk UGD karena darah tinggi dengan tekanan 200/100 mmHg. Ketika itu,  bapak sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit al-Islam Bandung, untuk menengok saudara yang sedang dirawat di sana. Tapi yang terjadi malah bapak yang ditengok.

Kayaknya bapak memang kecapean. Saya tidak banyak tau apa yang dilakukan bapak sekarang ini. Yang saya tau, bapak punya proyek di sana-sini, yang hampir setiap hari bapak pergi untuk mengontrol pekerjaan karyawannya.

Bapak tidak pernah bilang kalau bapak sedang banyak proyek atau sedang ada sakit yang dirasa. Tapi baru kali ini, usai baca qur’an bada Subuh, bapak mengeluhkan sakitnya di depan saya. Ya, itu kali pertamanya bapak mengeluh di depan saya. Sebelumnya, tidak pernah sama sekali.

Bapak itu orangnya pekerja keras. Ketika masa kecilnya, bapak adalah orang yang rajin membantu ayahnya di sawah. Ayahnya juragan tanah di daerah Cicalengka. Ayahnya selalu mengajarkan mengelola sawah yang baik. Tapi yang bapak inginkan adalah belajar agama. Hingga akhirnya, bapak ingin masuk pondok pesantren. Ayahnya mengabulkan permintaannya. Bapak belajar di pondok hanya dibekali penggiling beras. Ya, cuma itu. Belajar agama gak beres, karena terhambat oleh penggiling beras.

Profesi bapak berganti menjadi seorang penawar jasa tambal ban. Lalu berikutnya montir di sebuah bengkel motor dan mobil. Di tempat kerja ini, bapak belajar mengendarai motor dan mobil. Bapak pernah mengendarai BMW R25, R26, R27, Norton, BSA, mobil Mercedes Benz, Volks Wagen, Moris, Citroen, Renault, dan mobil Eropa lainnya yang sampai sekarang masih terlihat keren. Dari pengalaman ini, bapak banyak tau tentang mesin. Mengotak atik mesin ketika mobil VWnya mogok, bapak cukup jago. Dan saya selalu mengikuti dan memperhatikan apa yang bapak kerjakan.

Berikutnya adalah pengantar beras. Bapak mengantar pesanan beras ke mana-mana, bukan antar kecamatan, tapi antar kota. Bahkan kalau tidak salah, kota paling jauh yang pernah bapak datangi untuk keperluan mengantar beras adalah kota Surabaya. Dan kendaraan yang bapak bawa bukan mobil pick-up, bukan juga truk.. melainkan dengan motor Vespa. *Speechless :o

Makin sini, usaha bapak meningkat. Paving block adalah usahanya yang cukup meningkat tinggi. Usahanya itu, bapak sudah bisa membeli rumah di bilangan jalan Pasundan, daerah pertama saya dilahirkan. Di daerah itu pula, saya belajar berjalan. Dan bapak bisa dibilang “gak bisa diam” dalam urusan tempat tinggal. Bapak pindah-pindah melulu untuk tempat tinggal. Tentunya hal itu disertai dengan alasan yang jelas, bapak ingin punya rumah yang dekat dengan masjid. Setelah 5 kali pindah rumah, akhirnya didapat juga rumah yang hanya berjarak sekitar 5 langkah menuju masjid, di Antapani. Alhamdulillah.

Dan, hingga usaha bapak sekarang yang terus berubah, yaitu parquet, kini sudah beliau jalankan selama 17 tahun. Cukup lama. Tapi itulah bapak, tidak pernah menyerah dengan usahanya.

Sebenarnya, bacaan quran bapak, bisa dibilang tak sebaik anaknya. Maklum, dulunya kan ketika ke pondok, bapak cuma dibekali penggiling beras. Walhasil, hanya beras yang dipelajari. Memang, bapak bukan orang yang ahli dalam beragama, tapi bapak selalu menyempatkan diri untuk tahajud. Selalu saya terbangun ketika bapak sedang berdiri untuk solat tahajud. Terdengar suara isak tangis yang tertahan dari bapak untuk menunjukkan kesungguhan doanya kepada Yang Maha Kuasa.

Ketika saya masih kecil, bapak berpesan bahwa kita harus ‘banyak memberi, walaupun dalam keadaan susah’. Dan juga pesan kita harus ‘banyak bisa dan banyak tau’. Dan itu tertanam baik-baik dalam hati saya. Tentu sudah saya coba untuk menjadi seperti itu.

Usia bapak genap 70 tahun. Kini saya ingin bapak tidak capek dan sibuk dengan kerjaannya. Biar saya yang menggantikan posisi bapak. Saya sudah banyak mengekornya dan mempelajari apa yang dikerjakannya. Usaha bapak di bidang interior, ingin saya kembangkan menjadi lebih baik. Banyak yang saya pelajari dari apa yang telah saya jalani selama ini. Dan itu bagi saya sangat bermanfaat.

Diam-diam, bapak mendoakan anak-anaknya.

Diam-diam, bapak menggantikan lampu kamar yang sudah mati.

Diam-diam, bapak memberikan ilmu hidup.

Diam-diam, bapak sakit.

Bapak memang begitu. Hingga saya tidak tau. Dan yang saya lakukan adalah diam-diam membawakan madu untuknya, diam-diam membawakan roti dan kue kesukaannya, diam-diam kamar sendiri sudah ditata sedemikian indah, dan diam-diam mendoakan bapak semoga lekas sembuh. Amin.

2 Comments

Filed under Bandung, Cerita, Curhat

Dadah! Aku Pergi ke Jakarta! Mau Berobat!

Beberapa hari lalu, semakin hari semakin melemah. Aneh. Kenapa ya? Akuu.. Gak tau. Gak tau kenapa bisa begini. Heran. Tapi tuanku begitu sangat sayang padaku. Berbagai cara dan obat dia berikan padaku, agar aku sembuh dan bisa menangkap buruan.

Tapi keadaan memburuk saat aku tidak bisa memberikan respon pada tuanku. Hingga akhirnya, tuan membawaku ke rumah sakit dimana aku dilahirkan. Dan kini, aku dalam perawatan intensif di Jakarta. Entah berapa lama aku harus tinggal disini, tapi katanya sih paling cepet, sebulan lamanya aku dirawat. Lama banget ya? Hmm.

—————————————————————————————————————————

Kangen nih. Saya udah kangen. Pengen ketemu dengan dia. Tapi belum satu bulan. Semoga dia baik-baik saja disana.

*Percakapan batin antara saya dan kamera saya yang kini sedang dalam perbaikan di Jakarta :D

Leave a Comment

Filed under Tips

Ismi dan Orang-orang yang Menyayanginya

Saya terima SMS dari Mbak Nana, Bundanya Hauna, Hauna si mungil, jatuh sakit dan dirawat di RS Borromeus. Kabar itu saya terima ketika siang hari. Ingin segera langsung menengoknya, tapi keadaan tidak memungkinkan. Akhirnya, bada Isya, saya dan beberapa kakak PAS ITB (ini pun saya udah lupa, kalau gak salah, kak Romi dan kak … lupa, hehe..) pergi untuk menengoknya. Tiba di ruangannya, kami menghiburnya. Meski kami bukan badut, Hauna merasa senang dengan kedatangan kakak-kakaknya.

Setelah cari tau sakit apa, ternyata perut Hauna itu sensitivitasnya tinggi terhadap makanan yang kurang baik untuk dimakan. Sehingga sakitlah ia. Yah, Una.. Una.. Ada-ada aja Una ini.. hehe.. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.30. Kami pamit dan keluar dari ruang. Ketika kami sedang menunggu lift naik ke lantai 4, handphone saya berdering. Oh, ternyata Mbak Nana. Ada apa ya?

“Kak Rizqi, dimana? Udah pulang belum?”

“Eh, masih di lantai 4..”

“Tunggu, jangan dulu pulang, Hauna masih ingin main.”

“Oh, oke, Bun..!”

Tak lama kami menunggu, keluarlah Hauna dengan menggunakan kendaraannya: tiang infusan. Kakinya mencengkram kaki tiang infus, sedangkan tangannya memegang erat pada tiang, dan infusan terus mengalir ke tubuhnya. Tiang infusan itu didorong oleh Bundanya. Lucu deh ketika itu.. Hauna kayak pelaut! Ditambah rambutnya yang keriting kriwel-kriwel bergelombang. Semakin mengesankan.

Di luar ruang ada satu keluarga yang sedang asik bermain. Ibu, bapak, dan ketiga anaknya. Meski tidak selincah dan serame Hauna, namun tampaknya cukup asik bagi mereka. Saya ajak Hauna keliling ruang tunggu (masih) dengan kendaraannya. Melihat ikan yang ada pada akuarium dan menghitung jumlahnya. Bermain warna juga. Cukup seru menjelajah ruang tunggu. Hingga akhirnya saya ingin istirahat dan  duduk. Mbak Nana yang di dekat saya berbisik,

“Kak Rizqi, tau gak anak itu?” Sambil mengarahkan pandangannya ke anak yang dituju.

“Nggak. Emang kenapa gitu?”

“Itu loh, Ismi.. Yang sempat masuk berita..”

“Wah? Kok bisa? Emang ada apa?”

“Kan anak itu katanya diduga malpraktek..”

“Innalillah wa inna ilaihi roji’un.. Trus sekarang gimana?”

“Yaa, gitu.. masih dirawat..”

Ada rasa ingin tau ketika itu. Penasaran. Jurus ‘Sok Kenal Sok Dekat’ pun dikeluarkan. Mengajak main bareng Hauna. Mengajak jelajahi ruang tunggu. Tapi anak itu, tiba-tiba manyun sambil mengernyitkan kening. Mungkin marah karena merasa terganggu. Tapi ekspresinya lucu. Saya tidak memaksanya untuk bermain, yang pasti, saya sudah masuk ‘rumah’ mereka dan mereka welcome. Saya berkenalan dengan keluarga itu, ada Isma dan Ismi. Isma yang tadi manyun, sedangkan Ismi yang tidur-tiduran di pangkuan ibunya. Terlihat tak berdaya. Satu lagi anaknya adalah si kakak Izul.

Saya dan Mbak Nana menyimak baik-baik apa yang diceritakan oleh Bu Ira, Ibu dari 3 anak itu.

Ismi Apriani Nurjannah

Written by Fitria Candrasekar

Edited by Rizqi Fauzi Anggadinata

Ismi Aprilia Nurjannah, balita yang dilahirkan di Bandung, 1 April 2008 dirawat di Rumah Sakit setelah menjalani operasi pemasangan selang kecil (Ventrikulo Peritoneal Shunt) di dalam kepala, yang menghubungkan ruang penghasil cairan otak (cerebrospinal fluid) dengan rongga perut. Dari keterangan pihak keluarga, operasi tersebut dilakukan setelah mendapat keterangan dari pihak RS bahwa terdapat hidrocephallus dari hasil CT scan kepalanya. Keputusan operasi pun disetujui keluarga oleh karena mendesaknya kebutuhan operasi tersebut jika tidak ingin membahayakan nyawa Ismi. Semula, Ismi dilarikan ke UGD RS tersebut karena kejang dengan demam tinggi selama lebih kurang 3 hari. Setelah operasi tersebut, Ismi telah dikatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Namun selang beberapa hari pascaoperasi, terjadi perubahan kondisi pada Ismi. Ternyata Ismi mengalami gangguan penglihatan total dan kelumpuhan anggota gerak bagian bawah. Keluarga yang berpikir “kemungkinan ini adalah akibat operasi kemarin”, membawa Ismi kembali ke RS tersebut dan berusaha menggali keterangan akan apa yang sesungguhnya terjadi pada diri Ismi. Akhirnya Ismi kembali dirawat di RS tersebut, (di ruang perawatan intensif selama 2 bulan, dilanjutkan perawatan di ruang isolasi selama satu tahun, dan selebihnya di ruang perawatan umum) walaupun hingga saat ini (29 Oktober 2011-ed) pihak keluarga masih belum mendapatkan keterangan yang pasti terkait kondisi kesehatan Ismi, dan menemui kesulitan juga dalam mengakses Rekam Medis Ismi.

Duka Pagi

Pada tanggal 21 Mei 2012, pukul 06.00 WIB, Ismi Apriani meninggal dunia di Ruang NICU RS Borromeus. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi ‘wafu ‘anhu. Saya dapat kabar itu dari Sekar. Dan Sekar dapat kabar langsung dari Bu Ira. Jam 9.30, saya pergi ke rumah sakit dengan mengajak aktivis Salman lainnya (meski yang bisa ikut cuma Teh Ina). Kami mencari ruang NICU yang ternyata berada di lantai 4. Kami menggunakan lift untuk segera tiba di lantai 4 dan saat pintu lift terbuka di lantai 4, suasananya terasa penuh dengan duka. Saya tidak tau pasti ruang NICU berada, tapi curiga dengan ruang yang dijaga ketat oleh 3 sekuriti. Masihkah mereka menghalangi saudara-saudaranya untuk melayatnya? Ah, atau mungkin ruangan itu memang harus dijaga demi keamanan dan ketertiban. Entahlah.. Saat itu saya perhatikan banyak orang yang duduk di ruang tunggu. Saya yakin, tidak semua tau Ismi dan mau menengoknya, tapi saya merasa kita semua sedang dalam berduka. Di antara orang-orang yang saya perhatikan, ada sekitar 3 orang yang saya duga mereka adalah wartawan. Meski saya bukan wartawan, saya bisa mencium aroma wartawan, merasakan aura wartawan. Dan pasti mereka akan meliput keluarga Ismi. Tapi kenapa mereka tidak masuk ya? Apa memang belum boleh masuk?

Saya coba menghubungi Pak Zul lewat SMS. Tak lama, Pak Zul datang keluar dan mengajak kami ke dalam. Termasuk wartawan juga. Pas saya mau masuk ruangan lagi, yang di dalamnya ada Ismi dan keluarganya, saya bertemu dengan tim pengacara Ismi, Pak Irwan. Kami bersalaman. Ya, saya sempat berkenalan dengan beliau.

Saat kaki melangkah masuk ke dalam ruangan, kepala menengok ke kanan, tampak Bu Ira duduk sedih di samping ranjang. Air matanya membasahi kasur yang digunakan oleh Ismi. Ya, Ismi. Bocah 4 tahun yang sedang beristirahat tenang setelah menjalani perawatan 3 tahun lamanya di rumah sakit. Ismi beristirahat untuk selamanya. Ismi meninggalkan saudara kembarnya, Isma. Kakaknya, Izul. Dan kedua orangtuanya. Juga saya, Sekar, Ina, Tezar, Nurul, dan orang-orang yang mencintainya. Kami semua sedih. Kakak-kakak PAS yang sempat menengok Ismi, belum sempat mengajak bermain. Tapi saya sempat mencium keningnya saat dia tidur ketika saya dan Sekar menengoknya di ruang rawat inap.

Berbagi Ceria

Kami memang bukan tim dokter ahli, tapi setidaknya kami bisa membuat Isma dan Kaka tersenyum. Saya ajak mereka bermain di PAS ketika mentoring Ahad. Isma bergabung dengan kelompok TK dan dipegang oleh Nurul. Sedangkan Kaka sendiri bergabung dengan kelompok SD. Kaka sangat tertarik dengan kegiatan mentoring, apalagi ketika jam Club. Kaka masuk club BIPP, Bimbingan Ilmu Pengetahuan Praktis.

Pada hari lain, kami, kakak-kakak PAS berencana buka bersama di sekre. Saat itu bukan shaum senin-kamis yang kami laksanakan, tapi shaum tasu’a asyuro. Acara ifthor ini sangat meriah, karena dihadiri oleh kak Rita dan kak Agus. Donasi untuk acara ifthar jam’i ini pun datang dari beberapa orangtua. Kami bingung untuk membeli makanannya. Saya dan Aufa pergi ke Cibiuk untuk memesan paket nasi di sana. Tapi di jalan, saya urung niat. Teringat ikan dan ayam goreng/bakarnya Bu Ira di simpang dago. Segera saya dan Aufa kesana untuk pesan sebanyak 22 porsi. Alhamdulillah..

Pernah juga saya berkunjung berdua dengan Rifqi kesana, tapi kami sedih karena tidak boleh membayar.

Masih banyak cerita tentang mereka, juga tentang Ismi yang sepertinya tidak perlu saya ceritakan di sini. Tapi Sekar, Nurul, Tezar, dan beberapa kakak lainnya yang sempat nengok, pasti tau.

Apa yang sudah kami lakukan selama ini adalah usaha untuk membuat Ismi bisa sembuh. Meski pada akhirnya kami semua harus ikhlas atas kepergiannya kepada Sang Pemilik Nyawa. Sedih memang, tapi masih ada doa yang bisa kita panjatkan untuknya.

Masih banyak anak yang menderita demikian atau mungkin lebih parah. Jika kita seorang Muslim, ulurkan tangan kita kepada mereka dengan berlandaskan persaudaraan, bukan karena kemanusiaan.

Selamat jalan, Ismi..

Sampai jumpa. :)

Leave a Comment

Filed under Bandung, Cerita, Curhat

Roti Air Sungai

Kemarin itu, saya survey tempat untuk kegiatan Evaluasi Akhir Semester 56 di Masjid Baiturrahman, Cilengkrang, Kab. Bandung. Saya tidak sendiri pergi ke sana, Bayu, Nurul, dan Nunin ikut serta menemani. Perjalanan dari Salman ke Cilengkrang sangat mulus rupanya, tapi ketika masuk ke perbatasan Kota dan Kabupaten Bandung, kondisi jalan tiba-tiba berubah bebatuan.

Medan jalannya terjal menanjak ditambah lubang dan bebatuan. Parah sekali keadaan jalan itu. Sampai Bayu yang saya bonceng pun harus turun. Harusnya sih kuat, tapi biar lebih aman, ya turun saja.

Tiba di lokasi, kami melihat-lihat dan bertanya-tanya mengenai masjid dan fasilitas yang ada. Hingga akhirnya kami cukup puas dengan semua yang tersedia di masjid Baiturrahman.

Selain itu, kami survey perjalanan menuju curug Cilengkrang. Tidak jauh ternyata, sekitar 1 jam perjalanan kami tempuh, akhirnya tiba juga. Kami istirahat di sungai. Bermain air. Berfoto ria. Dan saya ingin segera pulang karena lapar. Karena saya bilang lapar, Nurul berkata, “Saya ada roti!”. Wooaahh.. Katanya, roti ada di kantong plastik di dalam tas. Segera saya buka tasnya. Buka kantong plastik hitam. Dan buka bungkusan rotinya.

Di dalam kantong plastik itu ada 2 bungkus roti sandwich, crackers, dan gunting kuku (oya, jadi inget, belum potong kuku nih..). Pas saya buka, Nurul berkata, “Eh, emang udah dijinin?”.. Hmm, baiklah.. saya akan mengatakan, “Ka Nurul, boleh saya minta rotinya?”.. Dan langsung saya makan. Kalau tidak salah langsung habis. Soalnya Bayu bilang nanti nanti aja sih.. Satu roti lagi, diambil Nurul. Dia membuka bungkusan roti, dan ,”Aaaa…”. Saya kaget pas nelen potongan roti terakhir. “Rotinya jatuh..”, saya kira roti itu jatuh dengan keadaan terbungkus, tapi ternyata sudah tidak.

“Ambil! Ambil! Ambil rotinya..” Saya minta Bayu untuk mengambilnya. Ditaruhnya di atas botol air mineral. Saya ambil roti itu dan menawari ke Bayu, “Mau Bay?”, dia jawab, “Nggak ah, mau yang normal aja..” Hahaha.. Di tangan saya, sebuah roti lezat yang sudah tercelup ke dalam sungai. Roti itu saya angkat dan didekatkan untuk lalu saya masukkan ke dalam mulut. Dan HAPPP.. Bruss.. air yang tertampung di dalam roti itu keluar membanjiri isi mulut saya. Dingin. Dan rasa rotinya hambar. Mungkin rasanya seperti Quacker oat yang sudah mendingin dan tidak berasa. Tapi untungnya, di bagian tengah roti itu ada coklatnya. Jadi cukup manis. Dan roti basah adalah roti pertama yang pernah saya makan.

—————————————————————————————

Jijik? Sebagian orang mungkin akan merasa jijik melihat makanan yang sudah tidak sama seperti keadaan pertama dilihatnya. Kue jatuh ke lantai, dibuang. Padahal lantai itu masih bersih. Ya, kita memang tidak tau apakah akan ada bakteri yang menempel atau tidak, tapi apa memang sebaiknya dibuang? Kalau kita perhatikan anak-anak tunawisma, mereka kadang memungut makanan yang jatuh di jalan. Dan dia makan. Dan dia.. baik-baik saja (insya Allah).

Ketika itu, saya yakin, roti yang jatuh ke sungai, insya Allah airnya bersih. Kearifan lokal masyarakat desa sudah mendarah daging pada dirinya. Maka, menghargai air adalah keniscayaan. Mereka tidak akan mengotori air. Tentunya mulai dari sumber air itu keluar sampai menuju desa. Karena air yang mengalir itu digunakan untuk keseharian mereka. Maka, hal yang wajar jika masyarakat desa sangat marah jika ada penebangan hutan liar di gunung atau hutan. Karena mungkin air tidak akan mengalir lagi dengan deras, yang artinya persediaan air akan berkurang. Dampaknya untuk kita, masyarakat kota, persediaan air bersih pasti berkurang juga. Bencana banjir menimpa. Panas matahari semakin menyengat. Dan masih banyak dampak lainnya.

Roti yang jatuh pun, segera diangkat dan lebih baik saya makan. Saya khawatir keadaan airnya berubah. Sekarang, roti yang bercampur air sungai itu, berada di dalam tubuh saya. Sari-sarinya diserap untuk diedar ke seluruh tubuh. Air jernih pun terbawa masuk. Dengannya, semoga tak hanya sekedar kebutuhan biologis terpenuhi, tapi juga sari-sari hikmah yang ada pada roti itu masuk ke dalam hati saya. Sehingga saya tergerak untuk bisa mengamalkannya.

3 Comments

Filed under Tips

Lubangi Semua Jalan di Bandung

Beberapa bulan lalu, saya melayat jenazah ayah teman saya, Aufa, di Brebes, Jawa Tengah. Setelah saya tau, ternyata beliau meninggal karena kecelakaan tunggal yang disebabkan jalan berlubang. Kejadiaannya malam hari sekitar jam 23.00. Ketika itu, hujan cukup lebat. Dan keadaan jalan di sana, tidak ada lampu penerang jalan satu pun, kecuali cahaya dari lampu kendaraan.

Entah mungkin karena ngebut, entah mungkin karena jalan raya yang gelap, dan entah mungkin karena lainnya. Yang pasti, hal itu saya jadikan sebuah pelajaran. Tapi yang ingin saya tanyakan, dimana tanggungjawab pemerintah sebagai orang yang harus melayani masyarakatnya dengan baik? Kenapa hanya jalan-jalan tertentu saja yang baik permukaannya, yang hanya dilalui oleh para pejabat pemerintah? Sedangkan jalan yang butut, itu dipersembahkan untuk rakyatnya..

Di Bandung, saya merasakan begitu. Kualitas jalan Ir. H. Djuanda (Dago) lebih bagus dan mulus daripada jalan Tamansari yang berada di sepanjang dinding kebun binatang dan kampus ITB. Tak sedikit orang yang hampir celaka karenanya. Padahal, Jalan Tamansari dan Ir. H. Djuanda itu berdekatan! Kok kualitasnya berbeda? Meski saya bukan mahasiswa Teknik Sipil, saya menaruh curiga pada jalan ini. Begitu pun pada jalan-jalan lainnya.

Saya pikir, kalau memang tidak ada dana untuk itu, tidak perlu diperbaiki. Saya menikmati dengan adanya jalan yang berlubang. Saya bisa mengendarai motor dengan pelan.

Bayangkan saja jika semua jalan di Kota Bandung berlubang. Keren loh! Akhirnya kan pemerintah bisa merasakan apa yang rakyatnya rasakan. Trus tidak ada lagi geng motor. Kenapa? Saya yakin mereka tidak berani ugal-ugalan di jalan raya. Dan kalau ada pengejaran pelaku kejahatan di jalan raya, dengan cepat kita bisa menangkapnya! Haha..

Terus.. Hmm.. sepertinya tidak ada lagi macet. Mungkin. Tapi yang jelas, dengan adanya jalan berlubang, yang dapat memperlambat laju kecepatan kendaraan, orang akan memprediksi waktu perjalanan dari rumah ke sekolah atau ke kantor. Sehingga tidak ada lagi yang terlambat! Jalan berlubang pun bisa dijadikan tempat untuk ternak ikan! Haha.. Bisa juga dijadikan latihan untuk Off Road atau Motocross.. Keren kan?

Leave a Comment

Filed under Bandung, Cerita, Curhat

Surat Terbuka untuk Geng Motor

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Saya cukup terkesan kepada pemilik jiwa berandal, khususnya pada geng motor. Kalian berani membuat onar ketika malam tiba, menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah, dan merusak tatanan lingkungan kota, terutama dalam hal ini kota Bandung.

Saya pernah mendengar berita tentang Bandung, bahwa sekitar tahun 60an, Bandung pernah mendapat predikat kota teraman sedunia. Tapi sekarang yang saya rasakan, tidak seperti itu. Predikat itu mungkin sudah direbut kota lain. Saya sedih karena kota Bandung tidak lagi seaman ketika itu. Dan saya marah ketika saya dapati berita atau kejadian yang perusakan citra kota Bandung.

Kesal dan marah kalau kota Bandung ini dirusak. Properti-properti kreatif di setiap sudut kota telah rusak oleh tangan-tangan kalian para vandalis. Tembok-tembok dicoret dengan tulisan yang tidak bermanfaat sedikit pun. Pagar-pagar taman dipatah-patahkan dan entah dibawa kemana.

Sungguh, saya tidak takut dengan keberandalan kalian. keberandalan kalian tidak sedikit pun membuat saya takut dan gentar. Kalau mau bertarung, saya siap. Tapi apalah gunanya itu, tidak membuat saya makin sehat dan kuat. Baik secara fisik mau pun psikis. Kalau pun mau, saya tantang balap lari dari Terminal Antapani sampai Terminal Ledeng. Kalau itu keberatan, saya tantang bertahan hidup di hutan selama seminggu tanpa persediaan bekal makanan dan minuman. Berani?

Kalian memang berani dan punya nyali besar, tapi haruskah kalian tunjukkan dengan cara yang tidak baik pada orang-orang biasa? Kalau memang berani dan bernyali besar, lawan dirimu sendiri!

Saya tidak mencap kalian sebagai orang jahat yang tidak memiliki sisi baik sedikit pun. Sebenarnya kalian adalah orang-orang tangguh dan baik yang memiliki sisi kelam. Kalian sama seperti saya dulu yang memiliki masa kelam. Tapi lambat laun, saya pun sadar, bahwa apa yang selama ini saya lakukan tidak membuat orang di sekitar merasa senang dan bangga, tidak membawa manfaat, dan cenderung menyusahkan orang lain.

Sekarang saya berubah menjadi lebih baik. Meski ada saja keadaan diri dan hati ini turun-naik. Tapi setidaknya saya sudah bisa meninggalkan masa kelam saya. Walau pun masih ada sisa-sisa yang terbawa sampai sekarang.

Rumah saya terbuka untuk siapa pun. Ibu saya bergaul dengan preman, tapi ibu saya tetap seorang wanita solehah. Demikian pun dengan saya, saya bisa berteman dengan siapa pun, selama dia mau berteman dengan saya. Jika kalian ingin masuk rumah, tinggal ucapkan salam dan senyum sapa pada setiap orang di rumah. Lalu larilah ke lantai 3. Itu kamar saya.

Geng motor yang ngebut bawa motor di jalan raya adalah hal biasa. Tapi kalau ngebut bawa motor di motoGP, itu baru luar biasa.

Geng motor yang nongkrong seharian sambil merokok di trotoar adalah hal biasa. Tapi kalau nongkrong membicarakan rencana agenda sosial yang bermanfaat untuk masyarakat, itu baru luar biasa.

Geng motor yang menakut-nakuti masyarakat pada malam hari adalah hal biasa. Tapi kalau menakut-nakuti para koruptor seharian, itu baru luar biasa.

Kalian masih muda, jangan mau jadi orang yang biasa-biasa saja. Malu sama anak kecil yang memiliki karya besar. Malu sama anak kecil Palestina yang dengan berani melempari sebuah tank dengan batu-batuan. Jadilah orang yang luar biasa! Tidak ada yang tidak bisa, selama kita yakin Allah selalu bersama kita.

Kalian tidak perlu takut saya yang mungkin saya memang lebih menakutkan dari kalian. Kalian pun tidak perlu takut saya yang mungkin saya bisa melakukan lebih dari yang pernah kalian lakukan. Dan kalian tidak perlu takut saya yang punya kakak member dari Bikers Brotherhood. Saya adalah saya berkawan dengan siapa pun yang ingin saling menginspirasi dan saling mengajak kebaikan.

Jika ada di antara kalian yang merasa tersinggung, saya minta maaf. Tapi jika ada yang mau menerima tantangan saya, mari kita lakukan secara sportif.

Semoga Allah mengampuni segala dosa yang telah kita perbuat selama ini. Dan melindungi diri kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Leave a Comment

Filed under Cerita, Curhat