Saya menyusun agenda hari ini (11 Februari 2013) dengan cukup baik. Mulai bangun tidur sampai kembali tidur. Mulai mengantar catering, membawa belanjaan buat proyek, melanjutkan tugas akhir, desain ruang playgroup, rapat di Salman, dan mengajar adik. Tapi saya cuma bisa merencanakan semua itu. Siang ketika mengerjakan tugas akhir, mamah saya menelepon saya: Ki, ka Jembar.. Mah Elin ngintunkeun (Ki, ke Jembar.. Mah Elin meninggal dunia). Saya kaget mendengar berita itu, padahal baru hari kemarin, saya main ke Jembar, menyapa Mah Elin dan mencium tangannya.
Mah Elin atau Mamah Elin adalah ibu kakak saya. Ya, saya dan kakak-kakak saya beda ibu tapi dari bapak yang sama. Kami memang keluarga besar. Mah Elin tinggal bersama beberapa kakak saya yang sudah berkeluarga semua di jalan Jembar, Cicadas, Bandung.
Ketika itu, di rumah ada Mah Elin, Qisty, dan Teh Reni. Kamar Mah Elin berada di lantai atas. Saat itu, Mah Elin tampak segar, berbeda seperti biasanya. Dan Mah Elin ingin makan lotek. Dibelikannya lotek oleh Teh Reni. Makan 2 suap dan berhenti karena Mah Elin tiba-tiba merasa sakit yang luar biasa, yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Teh Reni bersamanya ketika itu. “Cik, Ren, geuwat pangnelponkeun si Mamih..” Mah Elin meminta pada Teh Reni untuk segera menelepon Mamih (Mamih itu adalah mamah saya). Segera Teh Reni menghubungi Mamah. Saat itu Mamah sedang perjalanan menuju Dago, urusan catering. Tapi hati Mamah merasa gak enak. Akhirnya Mamah ganti tujuan ke Jembar. Saat mamah tiba di Jembar, mamah langsung pergi menemui Mah Elin, dan ketika bertemu, Mah Elin langsung jatuh di pundak Mamah. Dokter dipanggil untuk memeriksa apa yang terjadi dengannya. Bibirnya kelu, berwarna ungu. Berbagai usaha telah dokter lakukan, tapi Allah telah memanggilnya untuk kembali.
adik-adik saya yang sibuk dengan urusannya segera saya minta untuk datang ke Jembar. Tak disangka, tetangga-tetangga di rumah pun, yang di Antapani datang melayat. Meski mungkin ada sebagian yang tidak begitu mengenalinya, tapi mungkin ini yang dirasakan sebagai saudara.
Ini kali pertama saya mengurusi jenazah. Sampai saya ikut terlibat memandikannya, mengangkatnya, dan membawanya ke pemakaman.
Semua anaknya begitu mencintainya termasuk saya. Bahkan cucu-cucunya. Tidak ada yang tidak sedih atas kepergiannya. Semua merasa kehilangan.
Tapi inilah hidup,
ada kelahiran, ada kematian;
ada datang, ada pergi;
Kita dicipta, maka pasti tidak abadi. Hanya Allah yang kekal, Maha Kuasa atas segalanya.
Semoga kesedihan ini tidak larut terus menerus hingga menjadi sesuatu yang berlebihan hingga melupakan siapa yang menghadirkan orang yang dicinta.

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun.. turut berduka cita yah kak rizqi .